Senin, 28 November 2011

artemia


I. PENDAHULUAN
            Artemia merupakan plankton yang biasa hidup di air artemia ini merupakan zooplankton. Artemia dijadikan sebagai pakan hewan air terutama bagi pembudidaya udang. Artemia ini sangat baik dijadikan sebagai pakan hewan air ( udang, bandeng, Gurame, Tawes) karena artemia ini mempunyai kandungan protein yang tinggi yang berguna untuk pertumbuhan terutama untuk pertumbuhan benih / anak ikan maupun udang.Artemia merupakan jenis crustaceae tingkat rendah dari phylum arthropoda yang memiliki kandungan nutrisi cukup tinggi seperti karbohidrat, lemak, protein dan asam-asam amino. Benih ikan dan udang pada stadium awal mempunyai saluran pencernaan yang masih sangat sederhana sehingga memerlukan nutrisi pakan jasad renik yang mengandung nilai gizi tinggi. Nauplius artemia mempunyai kandungan protein hingga 63 % dari berat keringnya. Selain itu artemia sangat baik untuk pakan ikan hias karena banyak mengandung pigmen warna yang diperlukan untuk variasi dan kecerahan warna pada ikan hias agar lebih menarik.
            Artemia dapat hidup di perairan yang bersalinitas tinggi antara 60 - 300 ppt dan mempunyai toleransi tinggi terhadap oksigen dalam air. Oleh karena itu artemia ini sangat potensial untuk dibudidayakan di tambak- tambak tambak yang bersalinitas tinggi di Indonesia. Budidaya artemia mempunyai prospek yang sangat cerah untuk dikembangkan. Baik kista maupun biomasanya dapat diolah menjadi produk kering yang memiliki ekonomis tinggi guna mendukung usaha budidaya udang dan ikan. Budidaya artemia relatif sederhana serta murah, sehingga tidak menuntut ketrampilan khusus dan modal besar bagi pembudidayanya.Potensi lahan untuk usaha budidaya udang renik air asin (brine shrimp) ini di Indonesia mencapai kurang lebih 32.000 ha. Saat ini beberapa daerah telah mengembangkan budidaya artemia seperti di daerah pantai Madura, Jawa Timur, terutama di Kabupaten Sumenep, Sampang dan Pemekasan. Daerah lain yang tak mau ketinggalan adalah Jepara, Jawa Tengah dan Gondol, Bali.Sejatinya pembudidayaan artemia di areal tambak tidaklah terlalu sulit. Seperti yang dituturkan oleh Ir. Fa'ahakhododo Harefa (pengarang buku Pembudidayaan Artemia Untuk Pakan Udang dan Ikan), bahwa cukup dengan memodifikasi tambak garam yang sudah ada sedemikian rupa menjadi usaha tumpang sari garam dan budidaya artemia.



II. PEMBAHASAN
2.1.  Klasifikasi dan Strain Artemia
            Artemia merupakan zooplankton yang diklasifikasikan ke dalam filum Arthropoda dan kelas Crustacea. Secara lengkap sistemarika artemia dapat dijelaskan sebagai berikut.
Filum                            : Arthropoda
Kelas                            : Crustacea
Subkelas                       : Branchiophoda
Ordo                             : Anostraca
Famili                           : Artemiidae
Genus                           : Artemia
Spesies                         : Artemia salina linn.
            Nama Artemia sp. diberikan untuk pertama kali oleh Schlosser yang menemukannya di suatu danau asin pada tahun 1755. Kemudian oleh Linnaeus (1758) melengkapkan nama remik ini menjadi Artemia salirw. karena daya toleransinya terhadap salinitas yang amat tinggi.Selain spesies Artemia, salimi, ada beberapa spesies yang diberikan nama bagi strain zigogenerik, yaitu bila di dalam populasi bercampur antara spesies berina dan jantan. Nama-nama tersebut di antaranya Artemia tunisiana. Anemia franciscana, Anemia fersimilis, Artemia urmiana, dan Anemia monica. Namun demikian, nama Anemia salina atau disingkat artemia saja tetap umum digunakan. Nama ini pula yang digunakan dalam buku ini.
            Ada pula populasi artemia yang hanya terdiri atas individu-individu betina saja.  Strain artemia demikian  dikenal dengan istilah partenogenetik karena berkembangbiak tanpa melalui perkawinan, tetapi artemia betina langsung saja bunting.  Untuk strain ini juga hanya digunakan nama genus Artemia saja. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kerancuan pemakaian istilah. Dengan demikian, pemakaian istilah artemia tidak memperhatikan jenis kelamin suatu populasi.Sampai saat ini sudah dikenal lebih dari 50 strain artemia. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah san francisco bay, sack bay australia, chapin canada, macao, great salt lake, algues masters perancis, china, dan philippina. Pada prinsipnya perbedaan antara satu strain dengan strain lainnya terletak pada daya tetasnya, ukuran nauplius, ketahanan terhadap lingkungan, serta kebutuhan temperatur dan salinitas optimal.Pada kemampuan daya penetasan, misalnya, pada beberapa strain perlu perlakuan-perlakuan khusus pada kista agar diperoleh embrio yang mampu berkembang dengan hasil yang memuaskan. Perlakukan tersebut misalnya berupa hibernasi (pendinginan) dan pelarutan ke dalam cairan peroksida.
2.2. Morfologi
            Kista Artemia sp. yang ditetaskan pada salinitas 15-35 ppt akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Larva artemia yang baru menetas dikenal dengan nauplius. Nauplius dalam pertumbuhannya mengalami 15 kali perubahan bentuk, masing-masing perubahan merupakan satu tingkatan yang disebut instar (Pitoyo, 2004) .Pertama kali menetas larva artemia disebut Instar I.Nauplius stadia I (Instar I) ukuran 400 mikron, lebar 170 mikron dan berat 15 mikrongram, berwarna orange kecoklatan. Setelah 24 jam menetas, naupli akan berubah menjadi Instar II, Gnatobasen sudah berbulu, bermulut, terdapat saluran pencernakan dan dubur. Tingkatan selanjutnya, pada kanan dan kiri mata nauplius terbentuk sepasang mata majemuk. Bagian samping badannya mulai tumbuh tunas-tunas kaki, setelah instar XV kakinya sudah lengkap sebanyak 11 pasang. Nauplius menjadi artemia dewasa (Proses instar I-XV) antara 1-3 minggu (Mukti, 2004). Telur artemia yang kering atau kista berbentuk bulat cekung, berwarna coklat, berdiameter 200 – 300 mikron dan di dalamnya terdapat embrio yang tidak aktif. Nauplius artemia mempunyai tiga pasang anggota badan yakni antenna I yang berfungsi sebagai alat sensor, antena II berfungsi sebagai alat gerak atau penyaring pakan dan rahang bawah belum sempurna. Di bagian kepala antara ke dua antenna terdapat bintik merah (ocellus) yang berfungsi sebagai mata nauplius. Artemia dewasa berukuran 1 – 2 cm dengan sepasang mata majemuk dan 11 pasang thoracopoda. Setiap thoracopoda mempunyai eksopodit, endopodit dan epipodit yang masing-masing berfungsi sebagai alat pengumpul pakan, alat berenang dan alat pernapasan. Pada yang jantan, antenna II berkembang menjadi alat penjepit dan pada bagian belakang perut terdapat sepasang penis. Pada yang betina, antenna menjadi alat sensor dan pada kedua sisi saluran pencernaan terdapat sepasang ovari. Telur-telur yang telah masak dipindahkan dari ovari ke dalam sebuah kantong telur atau uterus (Sumeru, 1984).
            Pada tiap tahapan perubahan instar nauplius mengalami moulting. Artemia dewasa memiliki panjang 8-10 mm ditandai dengan terlihat jelas tangkai mata pada kedua sisi bagian kepala, antena berfungsi untuk sensori. Pada jenis jantan antena berubah menjadi alat penjepit (muscular grasper), sepasang penis terdapat pada bagian belakang tubuh. Pada jenis betina antena mengalami penyusutan.Di bawah ini adalah gambar morfologi artemia:

2.3. Ekologi
            Artemia sp. secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25-30 derajat celcius. Kista artemia kering tahan terhadap suhu -273 hingga 100 derajat celcius. Artemia dapat ditemui di danau dengan kadar garam tinggi, disebut dengan brain shrimp. Kultur biomasa artemia yang baik pada kadar garam 30-50 ppt. Untuk artemia yang mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt (Kurniastuty dan Isnansetyo, 1995).
2.4. Reproduksi
            Chumaidi et al., (1990) menyatakan bahwa perkembangbiakan artemia ada dua cara, yakni partenhogenesis dan biseksual. Pada artemia yang termasuk jenis parthenogenesis populasinya terdiri dari betina semua yang dapat membentuk telur dan embrio berkembang dari telur yang tidak dibuahi. Sedangkan pada artemia jenis biseksual, populasinya terdiri dari jantan dan betina yang berkembang melalui perkawinan dan embrio berkembang dari telur yang dibuahi.
2.5. Penetasan cystae Artemia
            Sutaman (1993) mengatakan bahwa penetasan cystae artemia dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu penetasan langsung dan penetasan dengan cara dekapsulasi. Cara dekapsulasi dilakukan dengan mengupas bagian luar kista menggunakan larutan hipoklorit tanpa mempengaruhi kelangsungan hidup embrio.
Cara dekapsulasi merupakan cara yang tidak umum digunakan pada panti-panti benih, namun untuk meningkatkan daya tetas dan meneghilangkan penyakit yang dibawa oleh cytae artemia cara dekapsulasi lebih baik digunakan (Pramudjo dan Sofiati, 2004).
            Subaidah dan Mulyadi (2004) memberikan penjelasan langkah-langkah penetasan dengan cara dekapsulasi, sebagai berikut: 1. Cystae artemia dihidrasi dengan menggunakan air tawar selama 1-2 jam; 2. Cystae disaring menggunakan plankton net 120 mikronm dan dicuci bersih; 3. Cystae dicampur dengan larutan kaporit/klorin dengan dosis 1,5 ml per 1 gram cystae, kemudian diaduk hingga warna menjadi merah bata; 4. Cystae segera disaring menggunakan plankton net 120 mikronm dan dibilas menggunakan air tawar sampai bau klorin hilang, barulah siap untuk ditetaskan; 5. Cystae akan menetas setelah 18-24 jam. Pemanenan dilakukan dengan cara mematikan aerasi untuk memisahkan cytae yang tidah menetas dengan naupli artemia.
            Pramudjo dan Sofiati (2004) cystae hasil dekapsulasi dapat segera digunakan (ditetaskan) atau disimpan dalam suhu 0 derajat celcius – (- 4 derajat celcius) dan digunakan sesuai kebutuhan.Dalam kaitannya dengan proses penetasan Chumaidi et al (1990) mengatakan kista setelah dimasukan ke dalam air laut (5-70 ppt) akan mengalami hidrasi berbentuk bulat dan di dalamnya terjadi metabolisme embrio yang aktif, sekitar 24 jam kemudian cangkang kista pecah dan muncul embrio yang masih dibungkus dengan selaput. Pada saat ini panen segera akan dilakukan.
2.6. Pengayaan Artemia
            Pengayaan (enrichment) artemia dengan menggunakan beberapa jenis pengkaya misalnya scout emultion, selco atau vitamin C dan B kompleks powder dilakukan selama 2 jam (Suriawan,2004). Selanjutnya diperjelas oleh Subyakto dan Cahyaningsih (2003) bahwa pengayaan pakan alami menggunakan minyak ikan, minyak cumi-cumi, vitamin ataupun produk komersial lainnya membutuhkan waktu 2-4 jam untuk mendapatkan hasil yang baik. Artemia yang akan dilakukan pengayaan adalah yang baru menetas (nauplius) (Mukti, 2004). BBAP Situbondo (2004) mencatat bahwa pemberian tambahan vitamin C dengan cara pengayaan dengan dosis 0,1 – 0,5 ppm pada media pengayaan artemia dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva kerapu. Syaprizal (2006) juga memperoleh hasil dengan pengayaan vitamin C sebanyak 2 mg/l ke artemia dapat meningkatkan kelulusan hidup benur udang windu dan diperoleh kemungkinan adanya kelulusan hidup lebih tinggi dengan penambahan dosis vitamin C.
2.7. Dekapsulasi Artemia
Dekapsulasi merupakan suatu proses untuk menghilangkan lapisan terluar dari kista artemia yang keras (korion). Proses ini dilakukan untuk mempermudah bayi artemia untuk keluar dari sarangnya. Dan kalaupun tidak berhasil menetas, kista yang telah didekapsulisasi masih bisa diberikan kepada ikan/burayak dengan aman, karena korionnya sudah hilang, sehingga akan dapat dicerna dengan mudah. Disamping itu proses ini juga sekaligus merupakan proses disinfeksi terhadap kontaminan seperti bakteri, jamur dll. Berikut merupakan keuntugan dekapsulasi artemia :
1.Tidak perlu adanya pemisahan nauplius dari cangkang, karena chorion cyst sudah dihilangkan.
2.Kandungan energi lebih tinggi karena tidak dipakai untuk proses penetasan.
3.Cyst telah disucihamakan melalui larutan hipokhlorit. Dapat langsung digunakan untuk makanan larva.
4.Mengurangi jumlah tenaga kerja.
2.8. Peranan Artemia dalam dunia perikanan

            Artemia merupakan salah satu pakan alami yang diberikan pada budi daya udang windu (Penaeus monodon) pada tahap post larva karena memiliki keunggulan antara lain: mudah dibudidayakan, mempunyai kandungan nutrisi yang cukup, mudah beradaptasi dalam berbagai lngkungan. Dalam kondisi lingkungan yang ekstrim, Artemia akan membentuk lapisan chorion bagi embrionya dan lapisan chorion dapat semakin tebal apabila kondisi lingkungan semakin ekstrim. Dengan pemberian nutrisi yang cukup bagi induk Artemia yang mencukupi kebutuhan tubuh induk dapat menyebabkan pembentukan lapisan chorion menjadi lebih tipis. Dengan lapisan chorion yang semakin tipis maka derajat penetaasan kista Artemia dapat lebih tinggi.

            Artemia merupakan salah satu makanan hidup yang sampai saat ini paling banyak digunakan dalam usaha budidaya udang, khususnya dalam pengelolaan pembenihan. Sebagai makanan hidup, Artemia tidak hanya dapat digunakan dalam bentuk nauplius, tetapi juga dalam bentuk dewasanya. Bahkan jika dibandingkan dengan naupliusnya, nilai nutrisi Artemia dewasa mempunyai keunggulan, yakni kandungan proteinnya meningkat dari rata-rata 47 % pada nauplius menjadi 60 % pada Artemia dewasa yang telah dikeringkan. Selain itu kualitas protein Artemia dewasa juga meningkat, karena lebih kaya akan asam-asam amino essensial. Demikian pula jika dibandingkan dengan makanan udang lainnya, keunggulan Artemia dewasa tidak hanya pada nilai nutrisinya, tetapi juga karena mempunyai kerangka luar (eksoskeleton) yang sangat tipis, sehingga dapat dicerna seluruhnya oleh hewan pemangsa.Melihat keunggulan nutrisi Artemia dewasa dibandingkan dengan naupliusnya dan juga jenis makanan lainnya, maka Artemia dewasa merupakan makanan udang yang sangat baik jika digunakan sebagai makanan hidup maupun sumber protein utama makanan buatan. Untuk itulah kultur massal Artemia memegang peranan sangat penting dan dapat dijadikan usaha industri tersendiri dalam kaitannya dengan suplai makanan hidup maupun bahan dasar utama makanan buatan.Sedangkan kelemahan dari artemia adalah cepat mati dalam waktu beberapa jam saja.

            Penggunaan Artemia sebagai pakan yang penting banyak dilaksanakan di unit-unit pembenihan ikan dan udang. Umumnya Artemia yang diberikan untuk larvae udang dan ikan dalam bentuk cyste atau nauplius instar I (berumur 2 jam). Berikut ini beberapa contoh penggunaan Artemia diberbagai kegiatan usaha:
1.Pembenihan Udang Galah
pada pembenihan udang galah, anak Artemia sangat dibutuhkan sebagai makanan larvanya. Larva udang galah PL I – V membutuhkan anak Artemia sebanyak 4 ekor/ml/hari atau 2 ekor/ml/hari, jika padat penebaran 75 ekor/liter. Untuk larva yang lebih besar (tiap hari diberi pakan tambahan) membutuhkan anak Artemia sebanyak 5 ekor/ml. Untuk larva PL VII dan seterusnya, pemberian anak Arrtemia cukup 3 – 4 kali sehari (Mudjiman, 1983).
2. Pembenihan udang Penaeus
menurut Lumenta dan Christensen (1992) pemberian pakan Artemia pada udang windu dimulai pada tingkat mysis sampai PL-15. Pemberiannya setiap 3 – 4 jam sekali dengan kepadatan 1 – 5 nauplius/ml (mulai tingkat mysis) dan dinaikkan terus sampai 10 nauplius/ml (pada pemeliharaan di Taiwan). Untuk pemeliharaan di Philippina pemberiannya hanya sampai tingkat PL-10 dengan jumlah Artemia yang diberikan 0,5 individu/ml dan dinaikkan sampai 5 ind/ml.
Telah diperlihatkan bahwa ketika Artemia yang lebih besar menjadi pakan, dimulai dengan Artemia yang baru ditetaskan (0.6 mm) pada PL-1 and berakhir dengan brine shrimp pra-dewasa (6.0 mm) pada PL-20, kekenyangan, kejenuhan dapat dihasilkan oleh volume Artemia di dalam perut udang, lebih baik dibandingkan beberapa organisme lain sebagai pakan.Misalnya, ketika ukuran mangsa yang tersedia adalah 4 mm malahan sampai kurang lebih 2 mm, jumlah artemia yang dikonsumsi lebih dari setengah (separuhnya). Dalam pengertian secara luas bahwa kandungan nutrisi Artemia setelah beberapa jam dari proses penetasan, harus diperkaya jika hendak dijadikan pakan larva untuk mencegah difesiensi nutrisi. Beberapa eksperimen menunjukkan bahwa pemberian pakan Artemia tanpa melalui proses pengkayaan nutrisi menghasilkan ukuran udang lebih rendah dibanding udang yang diberi pakan Artemia yang baru ditetaskan. Hal ini memperlihatkan penggunaan artemia sebagai pakan pada budidaya larva udang stadia mysis 3 dan udang PL yang lebih lanjut, dimana diberikan pakan Artemia hasil pengkayaan selama 12 sampai 24 jam. Tabel 6 memperlihatkan kemungkinan penggunaan pakan Artemia secara rutin.

2.9. Budidaya Artemia

2.9.1. Skala Kecil
A. Penetasan Cyste Artemia
1. Siapkan alat dan bahan
2. Siapkan wadah penetasan Artemia
3. Isilah air sebanyak 5 l iter dan tambahkan garam hingga salinitas menjadi 28 ppt
4. Timbanglah Artemia sebanyak 2 gram
5. Masukkanlah Artemia ke wadah penetasan yang sudah terisi air laut dan diaerasi.
6. Diamkanlah selama 16-18 jam
7. Perhatikanlah warna media penetasan, jika sudah terjadi perubahan warna dari coklat muda ke oranye maka Artemia sudah menetas.
B. Pengayaan Artemia
1. Menyiapkan akuarium dan media (bersihkan akuarium dan isi air tawar bersih dan dipasang aerasi)
2. Masukkan larva Bawal kedalam kedalam akuarium
3. Menyiapakan emulsi ( ragi 0,025 gr , minyak ikan 0,01 ml , kuning telur 0,01 ml, dilarutkan dalam air 100 ml
4. Hasil emulsi dimasukkan kedalam wadah kultur artemia
5. Setelah 6 – 8 jam diberikan pada larva ikan Bawal.
6. Pemberian pakan artemia dilakukan dua kali sehari pagi diberi pakan artemia tanpa pengkayaan dan sore dengan pengkayaan dengan minyak ikan (scot emulsion)
7. Mengamati pertumbuhan artemia
8. Berat Larva
9. Panjang Larva
C. Dekapsulasi Artemia
1. Menyiapkan wadah penetasan cyste artemia sebanyak 3 buah gallon.
2. Masing – masing gallon diisi air sebanyak 5 liter dan tiap – tiap gallon ditambah garam tidak   beryodium hingga salanitas masing – masing gallon 33 ppt, 33 ppt, 35 ppt
3. Merendam artemia 2 gram dalam 100 air tawar selama 1 jam
4. Membuatan larutan dekapsulasi 1 gram kaporit dan 0,3 gr NaCo3 / dicampur dalam air salinitas 33 ppt sebanyak 100 ml dan didinginkan dengan es batu dalam box sterefoam selama 60 menit.
5. Rendam artemia dalam larutan dekapsulasi dan beri aerasi sampai larutan berubah warna mnjadi orange selama 15 menit.
6. Bilas kista 6 kali dengan air tawar untuk menghilangkan bau kaporit.
7. Kultur artemia dengan perlakuan
Artemia tanpa dekapsulasi pada salinitas 33 ppt
Artemia yang telah didekapsulasi pada salinitas 33 ppt
Artemia yang telah di dekapsulasi pada salinitas 35 ppt
8.            Amati lama waktu penetasan kista artemia dan menghitung daya tetas kista artemia

Penetasan Cyste Artemia
Penetasan kista Artemia adalah suatu proses inkubasi kista Artemia di media penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas. Proses penetasan terdiri dari beberapa tahapan yang membutuhkan waktu sekitar 18-24 jam.
a. Proses penyerapan air
b. Pemecahan dinding cyste oleh embrio
c. Embrio terlihat jelas masih diselimuti membran
d. Menetas dimana nauplius berenang bebas
            Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menetaskan cyste Artemia adalah:
1. Suhu
2. Kadar garam
3. Kepadatan cyste
4. Cahaya
5. Aerasi
            Agar diperoleh hasil penetasan yang baik maka oksigen terlarut di dalam air harus lebih dari 5 ppm. Untuk mencapai nilai tersebut dapat dilakukan dengan pengaerasian yang kuat. Disamping untuk meningkatkan oksigen, pengaerasian juga berguna agar cyste yang sedang ditetaskan tidak mengendap. Suhu sangat mempengaruhi lamanya waktu penetasan dan suhu optimal untuk penetasan Artemia adalah 26-29º C. Pada suhu dibawah 25º C Artemia akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menetas dan pada suhu diatas 33º C dapat menyebabkan kematian cyste. Kadar 12 garam optimal untuk penetasan adalah antara 5 – 35 ppt, namun untuk keperluan praktis biasanya digunakan air laut (kadar garam antara 25–35 ppt). Nilai pH air harus dipertahankan pada nilai 8 agar diperoleh penetasan yang optimal. Adapun iluminasi pada saat penetasan sebaiknya 2000 lux.
            Hal lain yang menentukan derajat penetasan cyste adalah kepadatan cyste yang akan ditetaskan. Pada penetasan skala kecil (volume < 20l) kepadatan cyste dapat mencapai 5 g per liter air. Akan tetapi pada skala yang lebih besar agar diperoleh daya tetas yang baik maka kepadatan harus diturunkan menjadi 2 g per liter air. Artemia akan menetas setelah 18-24 jam. Artemia yang sudah menetas dapat diketahui secara sederhana yakni dengan melihat perubahan warna di media penetasan. Artemia yang belum menetas pada umumnya berwarna cokelat muda, akan tetapi setelah menetas warna media berubah menjadi oranye. Warna oranye belum menjamin Artemia sudah menetas sempurna, oleh karena itu untuk meyakinkan bahwa Artemia sudah menetas secara sempurna disamping melihat perubahan warna juga dengan mengambil contoh Artemia dengan menggunakan beaker glass. Jika seluruh nauplius Artemia sudah berenang bebas maka itu menunjukkan penetasan selesai. Akan tetapi jika masih banyak yang terbungkus membran, maka harus ditunggu 1-2 jam agar semua Artemia menetas secara sempurna.
            Kista menetas menjadi Artemia stadia nauplius. Setelah menetas sempurna, secara visual dapat terlihat terjadinya perubahan warna dari coklat muda menjadi oranye. Hal yang penting yang perlu diperhatikan dalam pemanenan nauplius Artemia adalah jangan sampai tercampur antara Artemia dan cangkang. Hal ini perlu dihindari mengingat cangkang Artemia tersebut mengandung bahan organik yang dapat menjadi substrat perkembangbiakan bakteri. Setelah 18 jam dimasukandalam bak penetasan maka pengecekan apakah Artemia dalam wadah penetasan sudah menetas atau belum. Pengecekan dilakukan dengan cara mematikan aerasi. Sesaat setelah aerasi dimatikan, jika secara kasat mata keseluruhan nauplius sudah berenang bebas maka pemanenan dapat dilakukan dan aerasi tetap dimatikan. Jika sebagian besar nauplius masih terbungkus membran dan belum berenang bebas maka aerasi dihidupkan kembali. Selanjutnya 1 atau 2 jam kemudian dilakukan pengecekan ulang. Langkah awal pemanenan Artemia yaitu dengan mematikan aerasi serta menutup bagian atas wadah dengan bahan yang tidak tembus cahaya. Hal ini dilakukan dengan tujuan memisahkan antara nauplius dan cangkang Artemia. Cangkang Artemia akan mengambangdan berkumpul di permukaan air. Nauplius Artemia akan berenang menuju ke arah cahaya. Karena bagian bawah wadah tranparan dan ditembus cahaya maka nauplius Artemia akan berkumpul di dasar wadah penetasan. Oleh karena itu pada saat pemanenan nauplius, sebaiknya bagian dasar wadah disinari lampu dari arah samping. Selain nauplius, didasar wadah juga akan terkumpul kista yang tidak menetas. Aerasi tetapdimatikan selama 10 menit. Setelah semua cangkang berkumpul di atas permukaan air dan terpisah dengan nauplius yang berada di dasar wadah maka pemanenan dapat dilakukan dengan cara membuka kran pada dasar wadah (jika ada) atau dengan cara menyipon dasar. Sebelum kran dibuka atau disipon, ujung kran atau selang kecil dibungkus saringan yang berukuran 125 mikron dan dibawah saringan disimpan wadah agar nauplius Artemia tetap berada dalam media air. Pada saat pemanenan hindarilah terbawanya cangkang. Artemia yang tersaring kemudian dibilas dengan air laut bersih dan siap diberikan ke larva ikan atau udang. Selanjutnya air dan cangkang yang tersisa di wadah penetasan dibuang dan dibersihkan.
Pengkayaan Artemia
            Larva ikan sangat membutuhkan beberapa kandungan EPA dan DHA, sedangkan kandungan EPA danDHA dalam nauplius artemia biasanya kurang memadai untuk mendukung pertumbuhan larva. Mengingat sumber EPA dan DHA adalah minyak-minyak ikan maka berbagai jenis minyak yang ada di pasaran mengandung komposisi asam lemak sehingga dapat dan sering digunakan untuk memperkaya jasad pakan.
            Kultur ragi roti dapat digunakan sebagai pakan rotifera, tetapi kualitas nutrisi yang dihasilkan sangat rendah bagi larva. Di Negara Jepang telah dikembangkan ragi-o yang diproses dengan penambahan minyak ikan. Ragi-o harus selalu disimpan dalam kondisi beku (suhu rendah) agar nilai nutrisinya tetap terjaga. Pemberian pakan tambahan ragi-o terhadap rotifera dan nauplius artemia sebelum diberikan kepada larva ikan telah meningkatkan kandungan EPA dan DHA dan telah dibukrikan meningkatkan kelangsungan hidup benih.
            Penambahan scot emulsion dan kuning telur dalam pengkayaan artemia. Dilakukan untuk meningkatkan kualitas nutrisi. Minyak ikan tidak dapat diberikan langsung sebagai pakan kepada jasad pakan sehingga harus dicampur dengan bahan lain seperti bahan protein Telah ditemukan teknik untuk memperkaya gizi jasad pakan melalui pemberian pakan buatan dalam bentuk pelet mikro yang dikenal dengan microencapsulated diet (MCD). MCD adalah ransum pelet mikro yang dibuat dari bahan-bahan ramuan yang kaya energi.
            Ragi omega dan salah melalui proses emulsi. Kuning telur segar atau lesitin atau kasein dapat dimanfaatkan untuk mengemulsi minyak ikan. Emuisi tersebut dicampur dengan ragi kemudian diberi pakan kepada nauplius artemia beberapa jam sebelum diberikan kepada larva.Satu produk pellet untuk Pengkayaan gizii rotifera dan artemia dengan ukuran partikel sangat kecil disesuaikan dengan kebutuhan rotifera dan nauplius artemia. Susunan partikel-parrikel pelet mikromi dilapisi oleh suatu membran protein dan akan pecah oleh enzim pencernaan. Penggunaan MCD ini telah dibuktikan dapat meningkatkan kelangsungan hidup benih ikan.
Dekapsulasi
            Penampang luar dari cyste Artemia sering dikontaminasi dengan bakteri, jamur dan organisme pengganggu lainnya. Dekapsulasi sangat direkomendasikan sebagai prosedur disinfektan sebelum melakukan penetasan telur Artemia. Cangkang bagian luar yang disebut chorion tidak dapat dicerna dan sukar dipisahkan dari nauplii hanya dengan bilasan air. Jika tidak dilakukan, maka hal ini dapat mengakibatkan kematian larva dan benih ikan dan crustacean (Warland et.al., 2001).
Menurut Daulay (1993) cara melakukan decapsulasi sebagai berikut (gambar 4):
- Telur direndam di air tawar dengan perbandingan 12 ml air tawar untuk 1 gram cyste Artemia. Perendaman dilakukan dalam tabung berbentuk corong yang bagian dasar bisa dibuka. Maksud penggunaan tabung tersebut agar pembuangan air dapat dilakukan dengan mudah tanpa mengganggu cyste. Sementara itu, pada bagian dasar corong diberi aerasi.
- Setelah 1 jam suhu air diturunkan hingga 15oC, dengan penambahan es. Setelah suhu turun baru ditambahkan NaHOCl 5,25% sebanyak 10 ml untuk 1gram cyste. Setelah 15 menit, larutan NaHOCl dibuang, kemudian cyste dicuci dengan air laut dan dibilas 6 – 10 kali hingga pengaruh NaHOCl benar-benar hilang.
Selama decapsulasi telur yang semula berwarna coklat akan berubah menjadi putih, lalu kemudian berubah lagi menjadi orange. Setelah decapsulasi, telur ini dapat disimpan untuk ditetaskan, atau bisa langsung diberikan sebagai pakan alami pada benih ikan dan atau larva udang.


2.9.2. Skala Menengah

            Untuk dapat diperoleh biomassa Artemia dalam jumlah cukup banyak, harus dilakukan kultur terlebih dahulu. Produksi biomassa Artemia dapat dilakukan secara ekstensif pada tambak bersalinitas cukup tinggi yang sekaligus memproduksi Cyst (kista) dan dapat dilakukan secara terkendali pada bak-bak dalam kultur massal ini. BBAP (Balai Budidaya Air Payau) Jepara telah berhasil melakukan penerapan metode untuk mendapatkan produksi biomassa dan cyst Artemia secara berkesinambungan di tambak bersalinitas tinggi.

            Teknologi yang dihasilkan ini sesungguhnya dapat diserap oleh masyarakat, khususnya para petani yang memiliki tambak garam. Sedangkan dalam hal produksi biomassa pada bak-bak secara terkendali, telah pula dibuat modifikasi teknik kultur yang sangat memungkinkan dapat diterapkan oleh para pengusaha pembenihan, bahkan dapat dijadikan usaha industri skala rumah tangga.
Dalam melakukan kultur massal Artemia secara terkendali berdasarkan metode yang dikembangkan oleh BBAP Jepara, diperlukan beberapa persyaratan sebagai berikut :

1. Bak Pemeliharaan dan Perlengkapan
Kultur Artemia dapat dilakukan pada bak-bak yang terbuat dari tembok, bak kayu berlapis plastik maupun bak dari fiberglass. Kapasitas bak tersebut minimal 1 ton air, Pada usaha pembenihan udang,
Gambar 10. konstruksi bak sengan system air berputar

kultur Artemia ini dapat dilakukan pada bak-bak untuk pemeliharaan larva udang. Bak kultur tersebut harus dilengkapi dengan peralatan aerasi dan jika memungkinkan dilengkapi dengan air lift untuk membuat sistem air berputar.

2. Makanan
Karena cara makan Artemia adalah dengan menyaring (Filter feeder), maka diperlukan makanan dengan ukuran partikel khusus, yaitu lebih kecil dari 60 mikron. Makanan yang diberikan dapat berupa makanan buatan maupun makanan hidup atau plankton. Makanan buatan yang memberikan hasil cukup baik dan mudah didapat adalah dedak halus. Cara pemberiannya harus disaring terlebih dahulu dengan saringan 60 mikron. Sedangkan plankton yang dapat digunakan sebagai makanan Artemia adalah jenis plankton yang juga digunakan sebagai makanan larva udang, seperti Tetraselmis sp, Chaetoceros sp, Skeletonema sp. Oleh karena itu kultur Artemia dengan plankton sebagai makanan alami lebih mudah dilakukan dalam suatu unit usaha pembenihan udang.

3. Prosedur Pemeliharaan
Untuk mendapatkan biomassa Artemia, nauplius Artemia dikultur dalam beberapa hari. Lama pemeliharaan tergantung pada ukuran Artemia yang dikehendaki. Jika Artemia digunakan sebagai makanan juvenil udang, maka lama pemeliharaan sekitar 7 hari, sedangkan jika digunakan sebagai makanan udang dewasa maupun untuk diproses sebagai bahan baku makanan buatan, maka lama pemeliharaan sekurang-kurangnya 15 hari. Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengkultur Artemia adalah sebagai berikut :
Tetaskan cyst Artemia untuk menghasilkan nauplius. Jumlah cyst yang ditetaskan 10 - 15 gram untuk 1 ton air dengan perhitungan efisiensi penetasannya adalah 200.000 nauplius/gram cyst.
Isi bak dengan air bersalinitas antara 20 - 35 permil yang disaring terlebih dahulu.
Tebarkan nauplius Artemia yang baru menetas dan aerasi medium pemeliharaan.
Berikan makanan (dedak halus atau plankton) jumlahnya ditentukan berdasarkan kecerahan air medium pemeliharaan.
Pemberian makanan ini dilakukan sampai kecerahan air antara 15 – 20 cm dan dipertahankan terns selama masa pemeliharaan. Untuk mengukur kecerahan air medium pemeliharaan dapat digunakan "tingkat kecerahan" yang berskala (dalam centimeter). Selama pemeliharaan, amati perkembangan Artemia, yaitu pertumbuhan dan perkiraan yang masih hidup.
Setelah lama pemeliharaan tertentu, 7 sampai 15 hari, dapat dilakukan pemanenan biomassa Artemia. Caranya adalah matikan aerasi dan biarkan sekitar 15 menit. Artemia akan muncul di permukaan dan selanjutnya dipanen dengan menggunakan seser, lalu dicuci. Biomassa Artemia dapat langsung diberikan kepada udang yang disesuaikan dengan ukurannya atau disimpan dalam bentuk segar (dalam freezer) maupun dikeringkan untuk dibuat tepung Artemia.

2.9.3. Skala Besar
            Budidaya artemia secara tidak langsung dipengaruhi oleh kondisi tanah. Tanah yang tidak sesuai untuk budidaya artemia ditandai dengan adanya bahan organik didasar tambak. Bahan organik tersebut akan meningkatkan proses aksidasi dan menghasilkan zat-zat beracun atau senyawa-senyawa yang meningkatkan keasaman air. Guna mengatasinya cukup dengan cara menguras tambak setiap 2 - 4 bulan sekali.Setelah dikuras, tambak diberakan (dibiarkan) antara 2-4 minggu. Selama pemberaan dilakukan pengapuran pada tambak sebagai upaya meningkatkan pH air hingga mencapai kisaran 7,5 - 8,5. Air dengan pH yang cukup tinggi ini sangat cocok untuk pertumbuhan artemia.
            Secara teknis budidaya artemia relatif mudah. Kemudahan ini lantaran didukung oleh sifat artemia yang sangat toleran pada berbagai kondisi fisik dan kimia media, kecuali zat-zat beracun. Namun untuk mendapatkan hasil yang optimal dibutuhkan pengetahun dan keterampilan yang handal dalam budidaya Artemia.
Benih berkualiatas adalah salah satu yang harus diperhatikan dalam budidaya artemia. Benih artemia banyak dijumpai di pasaran bebas dalam bentuk kista. Strain yang mudah ditemukan di pasar dalam negeri adalah San Fransisco Bay dan Great Salt Lake berasal dari Amerika Serikat. Didalam negeri benih artemia berasal dari Gondol, Bali yang dikemas dalam kaleng dengan berat 250 g.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan tambak adalah tanggul atau pematang tambak harus bebas dari kebocoran. Hal ini dapat diatasi dengan cara menutup tanggul dengan menggunakan plastik hitam atau menggunakan dinding beton.
Sebelum benih artemia ditebar, pada tambak terlebih dahulu diadakan perlakuan menumbuhkan makanan alami yang berupa fitoplanton. Dengan cara memupuk tambak menggunakan pupuk organik seperti kotoran ayam dan pupuk buatan berupa TSP dan Urea atau ammonium. Dosis pupuk kandang, TSP, dan urea yang diperlukan berturut-turut 3.000 kg/ha/tanam, 150 kg/ha/tanam dan 150 kg/ha/tanam.
Setelah lahan siap untuk digunakan, pertama-tama air laut dialirkan ke petakan reservoir dengan kedalaman 60 -100 cm yang menggunakan pompa air berdiameter sekitar 10 inci pada saat air pasang. Salinitas airnya kira-kira 30 - 35 ppt atau sama dengan salinitas air laut. Selanjutnya dari petakan reservoir II dialirkan ke petakan pemeliharaan dengan menggunakan pompa yang berdiameter 2 inci dan kedalamannya sekitar 60 cm.
Untuk menangani predator yang kerap mengganggu, dapat diatasi dengan tetap menjadi salinitas air media pada kisaran 150 ppt yang memungkinkan jenis predator tidak mampu bertahan hidup. Atau dengan cara menggunakan saponin pada dosis 10 -12 ppm. Ada beberapa macam predator yang sering menyerang artemia diantaranya zooplankton yakni orgnisme pesaing pemakan fitoplankton, dan benih ikan atau ikan dewasa yang masuk tambak secara tidak sengaja sehingga memakan artemia.
Sebelum artemia ditebar ke tambak, ada satu lagi kegiatan penting yang harus dilakukan yaitu penetasan kista. Kista merupakan telur yang terbungkus korion akibat ketidaksesuaian lingkungan telur menetas menjadi larva. Kondisi demikian memang sengaja direkayasa. Untuk menetaskan kista yang diperlukan adalah wadah dan perangkat suplai oksigen. Bentuk wadahnya kerucut dengan ukuran sesuai kebutuhan. Supaya suplai oksigen tetap ada, maka dibuatlah sistem aerasi dalam wadah. Sedangkan kepadatan kista sekitar 5 -10 g per liter air.
Penebaran benih artemia dapat segera dilakukan setelah kondisi pertumbuhan makanan alami di tambak terlihat normal. Hal ini ditandai dengan air tambak yang berwarna hijau keruh dan tingkat kecerahannya tidak lebih dari 20 cm.
Nauplii artemia yang ditebarkan pada petakan pemeliharaan berasal dari kista yang telah ditetaskan melalui dekapsulasi. Dalam menebarkan artemia sebaiknya digunakan nauplii instar I karena instar yang lebih tinggi relatif peka terhadap perubahan salinitas. Untuk keperluan produksi biomassa, nauplii ditebarkan pada petakan reservoir dengan tingkat kepadatan sesuai dengan daya lahan yang tersedia. Tingkat kepadatannya 200 nauplii per liter air. Sebelumnya nauplius dikeringkan yang dimasuk ke dalam alat pengering pada temperature 60 C° selama 24 jam, kemudian didinginkan selama 30 menit dan kemudian ditimbang.
Selama pemeliharaan, artemia harus mendapat pengawasan yang intensif agar hasilnya optimal. Adapun hal perlu diamati adalah salinitas, tingkat kecerahan air, pemberian makan tambahan, ketinggian air, kebersihan air, dan keasaman media.
Waktu pemeliharaan artemia sebaiknya dilakukan pada musim kemarau untuk memperoleh media dengan salinitas tinggi. Daerah Madura musim kemarau pada bulan Juli - November. Persiapannya dimulai pada bulan Mei. Sehingga beberapa tahapan budidaya artemia diantaranya bulan Mei persiapan non-teknis, Juni adalah persiapan tambak, dan Juli penebaran benih. Adapun masa panen dan pengolahannya jatuh pada bulan Agustus, September, Oktober dan November.
Pada umur 10 - 14 hari artemia mulai melakukan perkawinan. Pada artemia betina dewasa mempunyai kantung telur yang terletak di bawah tubuhnya yang berisi 20 - 30 butir telur. Dalam satu hektar tambak mampu menghasilkan kista sebanyak 260 kg. Apabila dalam setahun dapat dilakukan dua kali pemanenan maka produksi kista yang dapat dihasilkan mencapai 520 kg. Harga per kilogram kista artemia saat ini di tingkat petani Rp 35 ribu dan biomassanya Rp 40 ribu.
2.9.4. Penanganan Saat Panen
Pemanenan kista dan biomassa dilakukan dengan cara yang berbeda, baik teknik, waktu maupun penanganannya.Untuk kista dipanen setiap hari selama kurun waktu 2 bulan, sedangkan biomassa dipanen sekali selama satu periode budidaya. Pemanenan dapat dimulai pada akhir minggu ketiga terhitung sejak artemia ditebarkan ke dalam tambak. Tanda-tanda kista yang siap dipanen adalah terdapat butiran-buturian halus berwarna coklat tua yang mengapung di tambak. Waktu yang tepat memanen kista antara pukul 08.00-11.00, dimana hari cukup terang dan anginnya sepoi-sepoi sehingga kista mudah ditangkap dengan seser halus yang terbuat dari bahan nilon.
Biomassa artemia dewasa siap dipanen setelah 14 hari dalam pemeliharaan. Saat itu artemia telah mencapai ukuran 10 mm. Pada sistem budidaya tambak, biomassa artemia dipanen setelah masa pemanenan kista yang terakhir yang ditandai dengan mortalitas induk sudah mulai meningkat, sementara produksi kista mencapai jumlah terendah. Cara pemanennya dilakukan dengan membuat lubang pembuangan air keluar dari tambak dengan memasang jaring berbentuk V dengan ukuran 1 - 1,5 cm. Kemudian artemia yang sudah terkumpul disudut tambak diangkat dengan menggunakan seser halus dan langsung dimasukan ke dalam wasah berisi air laut yang bersih.
Prekopulasi pada artemia dimulai dengan jantan menjepit/mendekap betina dibagian antara uterus dan pasangan thoracopoda terakhir. Pasangan tersebut dapat berenang berkeliling selama 3 – 4 hari. Kopulasi terjadi sangat cepat dengan cara melingkarkan perut jantan ke dapan kemudian penis dimasukkan ke dalam lubang uterus dan telur dibuahi. Telur yang telah dibuahi pada umumnya berkembang menjadi nauplius yang berenang bebas atau bila kandungan oksigennya rendah dan salinitas tinggi, embrio hanya berkembang sampai stadium gastrula dan tersimpan sebagai kista. Seekor betina dapat menghasilkan 50 – 200 kista. Daur perkembangbiakan dengan selang waktu terpendek 4 hari.
Populasi artemia di alam terdapat di danau garam (perairan pantai atau darat yang banyak mengandung khlor, sulfat atau karbonat). Artemia mempunyai sistem osmoregulasi yang efisien, sehingga mampu beradaptasi pada kisaran salinitas yang luas, yakni 1 – 200%. Di samping itu artemia mampu mensintesis hemoglobin secara efisien untuk mengatasi kandungan oksigen rendah pada keadaan salinitas tinggi. Toleransinya terhadap suhu cukup luas, yaitu 6 – 35º C, suhu optimum berada pada kisaran 25 – 40º C (Kontara dkk, 1987)
            Artemia dapat tumbuh cepat di perairan laut. Pada budidaya artemia dalam bak, hasil pertumbuhan terbaik dicapai pada salinitas 35‰. Artemia mempunyai sifat dapat tumbuh dengan baik pada kepadatan populasi yang tinggi dan dapat dibudidayakan dengan kepadatan 10.000 – 15.000 ekor nauplius per liter air laut. Artemia dapat tumbuh dari nauplius menjadi dewasa dalam waktu sekitar dua minggu dengan peningkatan panjang sekitar 5 kali (Kontara dkk, 1987).
            Artemia termasuk jasad hidup penyaring pakan tidak selektif yang dapat memakan bahan dan jasad hidup dengan ukuran 1 – 5 mili mikron. Jenis pakan tersebut dapat berupa dedak, ragi, alga renik, bakteri, dan jasad renik lainnya.


















III. PENUTUP
            Artemia merupakan pakan yang penting bagi organisme budidaya seperti ikan, udang dan kepiting. Hal ini disebabkan karena nilai nutrisi yang dikandungnya tinggi dan penggunaannya pun luas. Tetapi kendala utama khususnya di Indonesia adalah kurangnya stok produksi dalam negeri, sehingga mempengaruhi pada harga jual yang tinggi. Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan produktivitas lahan tambak melalui budidaya Artemia, disamping lahan tambak terproduktifkan juga meningkatkan produksi Artemia lokal.
            Selain itu proses pengkayaan nutrisi Artemia lokal perlu semakin digalakkan, terutama untuk menyaingi produk-produk Artemia dari luar negeri yang umumnya sudah melewati proses pengkayaan sebelum dipasarkan.









7 komentar:

  1. Salam,

    Saya Wahyu dari Malang.. berniat untuk memperbanyak artemia utk kepentingan budidaya lele.. bisakah kami dibantu untuk mendapatkan artemia dan dipandu cara pembudidayaannya.. semoga kelak bisa menjadi solusi sukses bagi petani ikan di indonesia. mengingat pakan buatan pabrik semakin mahal dan tdk terjamin kualitasnya..

    Salam,

    Wahyu
    0878-5969-7814
    www.transtritunggaljaya.blogspot.com
    fb : wahyu fajar widodo

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk lele tidak usah dikasih makan artemia.soalnya artemia buat ikan air laut lagi pula harga artemia relatif mahal.untuk benih lele bisa di kasih pakan depnia atau tubiflex cara budidayax mudah.pakan ikan semakin hari semakin mahal....bisa di siasati dengan membuat pelet sendiri.yang di butuhkan hanya mesin2 pembuat peletx.saya pernah belajar cara membuat pelet.yang hasilx lbih baik dari pelet pabrik

      Hapus
  2. maaf mbak .ikut jawab ni...untuk benih lele tidak usah memakai artemia....artemia kan untuk ikan air laut..lagi pula harga artemia relatif mahal...lo buat benih lele di kasih makan dephina to tubiflex..pakan buatan pabrik memang semakin mahal..untuk lele bisa anda buat sendiri pelet/pakannya......mudah asal ad mesinnya..say bs buat pakan kualitasx yg lebih baik dari pabrik.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk komposisi pembuatan pelet nya bagai mana bos?

      Hapus
  3. Jual produk-produk untuk pembenihan udang dan ikan al : Artemia, Spirulina, Ovaprim, Pakan powder, Pakan berbentuk Flake, Multivitamin udang dan ikan.
    Untuk informasi selengkapnya silahkan hub HP 0812 2841 280.
    Yanto - Pemalang, Jateng

    BalasHapus
    Balasan
    1. to Yanto: saya ingin ARTEMIA, SPIRULINA, OVAPRIM & MULTI VITAMIN. Bolehkah email saya. syuha22898@yahoo.com - HAIRI, MALAYSIA.

      Hapus
  4. to Yanto: saya ingin ARTEMIA, SPIRULINA, OVAPRIM & MULTI VITAMIN. Bolehkah email saya. syuha22898@yahoo.com - HAIRI, MALAYSIA.

    BalasHapus